Biru

Tiada yang lebih sedih daripada perjuangan yang berat, sendirian, dan entah kapan akan usai. Di tengah jalannya kau mulai lelah dan terengah, “istirahatlah sampai kau pulih” kata mereka. Mereka tak tahu betapa si waktu tak kenal konsep jeda.
Di tengah jalannya kau mulai berpikir perjalanan ini akan sia-sia, merugi pun tak apa karena sudah terlampau keras kau siksa dirimu sendiri. Kadang pula di tengah jalannya kau lupa sumpah dan janjimu, kau lupa alasanmu mengepal keras tanganmu dan mulai berjalan. Kau tak bisa ingat pula jalan pulang karena terlalu jauh kau pergi.
Terkadang pedih dengan licik menelusup dalam diam dan tinggal di kepala, memutar ulang segala perjuanganmu yang tak seorangpun sanggup pahami setiap detailnya. Lalu hatimu pun mengerut, matamu perih, dan diekskresikan lah sedihmu dalam bulir-bulir air mata. Lalu orang memandang dan berkata “dia memimpikan mimpi yang tak sanggup ia raih.” Kau pun terdiam, tak mampu membantah, enggan pula setuju.
Di tengah jalannya kau bertemu tanya, marah, tawa, cinta, duka, dilema, kawan. Kau pikir dulu hidup hanya sewarna tanah tempatmu berpijak, ketika pikirmu yang penting kau masih berdiri. Kemudian kau angkat dagumu dan seketika semua warna dan rupa menyengat matamu, buru-buru kau dongakkan kepalamu dan kau lihat langit hanya sewarna biru.
Lalu pada satu titik semua pemikiran ini jadi satu, tak penting lagi esensi waktu bagimu, kau pun terdiam memandangi langit sewarna biru. Tiada satupun suara yang kau izinkan masuk ke dalam kepalamu, kau hanya ingin senyap. Nafasmu pun sepelan dan seirama angin, tak ada yang lebih tenang daripada ketiadaan.
Perlahan jari-jarimu menguruti pelan cahaya matahari, meraba hangatnya, berusaha mencuri terangnya untuk kau simpan dalam hati. Kau pandangi telapak tanganmu dan kau coba kepalkan erat, tapi rasanya sudah tak lagi sama. Kau lepaskan pelan kepalanmu, menyadari barusan tak lebih dari sekedar gerakan motorik. Dulu kau yang masih naif menyamakan eratnya kepalan tanganmu dengan daya juangmu. Sekarang kau tahu semua tak selugu itu.
Lalu kau melihat ke dalam dirimu sendiri. Kau lihat betapa luka-luka perjuanganmu telah merekonstruksi total cara pikirmu. Permukaan hatimu kini memiliki kulit berlapis seperti bawang, setiap lapisnya adalah pembelajaran dari luka yang mengering.
Sampai pada titik ini kau sadar bukan perjuangan yang perlu kau pikirkan, bukan pula antek-anteknya yang memberatkan, tetapi garis akhir yang menjadi awal semuanya. Kau berdoa keras pada Yang Maha Esa minta restu, minta kekuatan yang tak sanggup manusia punya dan kau tatap garis akhirmu. Kau tatap lekat-lekat hingga tak lagi ia akan hilang dalam rimba pikiranmu. Kau tak lagi peduli warna tanah, terlebih segala warna dan rupa bumi, hanya langit sewarna biru diujung sana. Kau semayamkan tujuanmu disana, terbang pun pasti kau bisa.

KB

Share:

0 comments