Makemake

betapa menghalangi diri sendiri dari mengingini itu sungguh suatu kejahatan paling kejam yang seorang bisa lakukan bagi dirinya sendiri. biar aku jabarkan dulu kenapa. selama ini aku sadar, keinginan adalah awal dari bencana, awal dari segala kesusahan yang bisa aku hasilkan sendiri, maka aku kemudian belajar berhenti mengingini.
beberapa kali aku mengingini, kemudian berhenti. takut terlalu ingin, jadi lupa realiti. takut terlalu ingin, jadi mudah tersakiti.
aku pun kemudian hidup di bawah bayangan takut untuk mengingini. aku tak mau lagi menginginkan sesuatu yang tak kupunya, atau aku tak tahu akan kupunya atau tidak. pokoknya yang aku tahu lebih baik tak ingin daripada tak punya.
ketakutan akan 'ingin' ini menjauhkan aku dari segala usaha untuk mendapatkan apa yang aku mau dan mungkin kupunyai. perlahan aku jatuh miskin dalam ketakutan akan ingin. aku miskin motivasi, aku miskin usaha, aku miskin bahagia, aku miskin.

hingga beberapa hari ini ketakutanku dirusak oleh satu visi. aku tergoda untuk ingin lagi, aku tertarik, sulit bagiku untuk menahan diriku dari memejamkan mata dan mempertajam visi itu.
aku bertahan begitu keras untuk tidak mengingini, apapun yang ada dalam visi itu, aku tak ingin. apapun kemungkinan yang ditawarkan oleh visi itu, aku tak ingin. apapun kesempatan yang terbuka dari visi itu, aku tak ingin.
kemudian seakan sebal tak aku acuhkan, visi itu membawa temannya, visi lainnya. di visi lainnya itu aku melihat, menonton diriku sendiri dilewati hari-hari begitu saja. aku berteman terlalu akrab dengan ketakutanku akan ingin, sehingga apapun itu - cinta, kesempatan, bahagia, pembelajaran, pengalaman, proses, manusia, harta, semuanya - melewatiku begitu saja.
sesepi itukah hidupku selama ini? betapa ironisnya ketika hari-hari melewatiku begitu saja hanya menyisakan angin sepoi akan isu yang sudah basi dan lalu. aku tak pernah ambil bagian dari isu-isu itu, aku selalu menjadi observer paling setia yang tak punya hak bicara.

tidak, aku tak bisa menjadi bisu dalam ketakutanku. sudah terlalu lama aku menahan hatiku dari mengharubiru menikmati inginku.
untuk terakhir kalinya, aku tak ingin untuk tak ingin. aku ingin.
biar kali ini aku ingin dengan keberanian paling gila, aku ingin. biar aku mengingini visi yang pertama dengan begitu ingin, sampai aku tak peduli bagaimana realiti, sampai aku tak ingat lagi bagaimana rasa sakit.
biar aku teriakkan keras-keras inginku, dunia harus dengar aku sudah selesai mempuasakan diriku dari ingin.
AKU INGIN MENJADI AHLI HUKUM RUANG ANGKASA. jika bukan yang pertama di dunia. biar.

biar inginku ini yang nanti perlahan menghancurkan stereotype masyarakat akan ingin-ingin harus terlalu dangkal supaya mudah digapai. biar. memang inginku setinggi langit, bahkan lebih.
inilah inginku dengan keberanian paling gila seumur hidupku, sekali aku mengingini dan inilah inginku. inilah fragmen jiwaku yang akan kubawa tidur-bangun-makan-beraktivitas-makan-tidur setiap hari. inilah inginku yang dengan kekhawatiran sebesar jagadraya kubawa ke dalam doa-doaku.
biar dengan inginku, orang bilang aku idealis, aku gila, aku lupa daratan, aku diawang-awang. dengar, aku akan terbang ke bintang, sehingga kalau aku harus jatuh, aku jatuh di langit.

waktuku sudah cukup lama disita oleh bayangan ketakutan, hidup dari satu ketakutan ke ketakutan lainnya. dan aku sungguh lelah menjadi penakut diluar keberanianku mengakuinya. tidak, aku tidak dilahirkan untuk menghindar.
beranjak dari momen ini, saat ini, waktu yang rapuh ini, hidup bisa membawaku kemana saja. aku bisa menjadi ibu rumah tangga, aku bisa menjadi pengacara, aku bisa menjadi astronot.
atau aku bisa menjadi ahli hukum ruang angkasa pertama di dunia.
sungguh, aku tak bisa tahu pasti kemana esok dan hidup akan membawaku. maka biar dari hari ke hari yang aku jalani, yang pasti aku lalui, aku tata dengan rapih biar sejalan dengan inginku.

aku menulis ini untuk diriku sendiri. aku perlu pengingat betapa berkeinginan itu memerdekakan. betapa konsekuensi yang akan aku hadapi akan jauh lebih besar dari kemarin, dan aku harus siap.
betapa inginku yang satu ini lah yang akan menjadi tumor di otakku. betapa aku harus belajar mengingini tanpa melangkahi otoritas pemilik hidupku. betapa aku harus siap bahwa semakin aku ingin semakin sulit aku dapat.
betapa Dia bisa kapan saja merengut inginku ini dariku, dan aku harus terima. aku perlu mengingat saat ini akan menjadi titik kulminasiku, kemana aku melangkah sesudah ini sepenuhnya menjadi keputusanku.

Share:

0 comments